HOME | ABOUT ME | DAFTAR ISI | welcome to happydesug.blogspot.com

Jumat, 18 Juni 2010

Ikan Lele Raksasa Bagarius Yarrelli

hooked_3_bagarius-yarrelli 

1-goonch-bagarius-yarrelli
Zeb Hogan dan Bagarius yarrelli 

Klasifikasi Ilmiah ikan lele raksasa Bagarius Yarrelli
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Actinopterygii
Order: Siluriformes
Family: Sisoridae
Subfamily: Sisorinae
Genus: Bagarius
Species: B. yarrelli
Binomial name: Bagarius yarrelli
Synonyms: Pimelodus yarrelli 
(sumber: Wikipedia)

Nama lain: Giant Devil Catfish, Goonch, Pla Kaey, Sand Shark, River Yeti, Flesh-Eating Catfish.

Bagarius Yarrelli river yeti
James Wade berhasil menangkap seekor ikan Bagarius Yarrelli dengan panjang hampir dua meter.
Sekilas, wujudnya seperti ikan lele. Punya sungut, berkepala datar melebar, dengan tubuh berwarna serupa lumpur. Ukuran tubuhnya dapat mencapai 2 meter dan berat 73 kilogram! Butuh tiga orang dewasa untuk memegang tubuhnya dari kepala hingga ekor. Tentu saja, sang lele raksasa ini menjadi buah bibir yang menghiasi sejumlah media massa beberapa waktu lalu.

Kehebohan itu berawal ketika James Wade, seorang petualang alam liar dari Inggris, mendengar kabar bahwa ada ikan lele raksasa di Sungai Kali, yang mengalir di kawasan India dan Nepal. Wade kemudian memburu ikan itu untuk acara televisinya. Maklumlah, selama ini Wade juga berprofesi seperti mendiang Steve Irwin, penyayang binatang dan presenter dengan aksen Australia yang medok pada sejumlah acara dunia fauna.

Sambil menjadi pemandu acara ''Channel Five'' dan ''Animal Planet'', Wade melanglang buana berekspedisi dari kawasan Eropa hingga Kongo dan Amazon. Selama berpetualang, ia dilaporkan sempat terserang malaria, mengalami kecelakaan pesawat terbang, hingga dituding sebagai mata-mata. Kabar tentang monster lele jumbo itu pun membawanya ke Sungai Kali di kawasan utara India. Benar saja, James Wade berhasil menangkap seekor ikan Bagarius Yarrelli dengan panjang hampir dua meter.
Cerita tertangkapnya lele raksasa itu makin seru, karena Sungai Kali merupakan tempat ritual pembakaran jenazah adat istiadat masyarakat Hindu. Jenazah yang telah disemayamkan akan dibakar dan abunya ditebar ke Sungai Kali. Namun, dari ratusan ritual pembakaran jenazah, ada saja satu atau dua sisa jasad yang tak terbakar habis.

"Banyak penduduk lokal bercerita kepada saya bahwa ikan ini jadi tumbuh luar biasa karena makan sisa-sisa tubuh manusia itu," kata Wade. Bahkan sang ikan disebut-sebut jadi ketagihan daging sehingga memangsa orang jika ada kesempatan. Kabar inilah yang membuat Wade penasaran untuk meneliti ikan itu.
Pers luar negeri pun ramai-ramai menyebutnya sebagai cacat genetik atau mutasi gen, sehingga ikan lele itu tumbuh luar biasa. Mereka memajang foto Wade bersama ikan monster itu dengan komentar: ''Tertangkap: ikan pencinta daging manusia''. ''Jika ikan ini menangkap Anda, mungkin tak ada waktu untuk melepaskan diri,'' kata Wade kepada koran The Sun yang terbit di Inggris.

Tak jelas, apakah Wade sedang bergurau atau tidak. Soal ikan doyan daging itu memang amat dipercaya penduduk setempat. Seorang remaja Nepal berumur 18 tahun dikabarkan hilang ketika sedang mandi di sungai, April 1988. Tiga bulan berikutnya, giliran seorang anak laki-laki hanyut lepas dari pengawasan ayahnya. Saksi mata melihat ''hewan bertubuh panjang'' menyeret mereka ke bawah air.

Apakah kehebohan ini benar adanya? Yang pasti, sang lele monster jumbo itu bukan hasil mutan. Ukuran tubuhnya memang spesial dari sono-nya. Para ilmuwan menyebutnya Bagarius yarrelli (Sykes, 1839) yang memang dari keluarga jenis ikan berkumis alias lele (kelas Actinopterygii).

Dari sejumlah data penelitian yang ada, B. yarrelli punya empat jenis saudara lainnya, yakni B. bagarius (dapat tumbuh mencapai 20 sentimeter), B. suchus (70 sentimeter), B. rutilus (1 meter), dan B. gigas. Namun, dari semua jenis itu, B. yarrelli berukuran tubuh paling bongsor, dapat mencapai 2 meter.

B. bagarius lebih suka berdiam di kawasan sungai tak terlalu besar, berbatu-batu, dengan arus tak terlalu deras. B. suchus dan B. yarrelli lebih banyak berenang di dasar sungai besar berbatu dengan arus deras dan sangat jarang memasuki aliran sungai kecil. Mereka bertelur di sana, terutama menjelang musim hujan yang membuat air sungai melimpah.

Bicara soal makanan, B. bagarius lebih suka serangga air tawar, ikan kecil, kodok, dan udang-udangan. Begitu juga B. suchus. B. yarrelli lebih suka siput-siput kecil. Namun ia tak menolak jika ada ikan atau serangga kecil.

Mangsa mereka kelihatan biasa-biasa saja. Tapi keluarga Bagarius, khususnya B. yarrelli, dilaporkan memburu makanan secara berkelompok bak singa. Ikan ini memang selalu berada dalam kelompoknya. Begitu juga ketika bermigrasi sepanjang sungai, pada saat air sungai pasang dan arusnya deras.

Nenek moyang Bagarius dilaporkan berasal dari zaman eocene. Namun umur fosil yang ditemukan masih dalam penelitian. Fosil tertua Bagarius tercatat ditemukan di Sumatera dan India, berasal dari zaman plicene. Hingga kini, Bagarius memang banyak ditemukan di kawasan selatan dan Asia Tenggara.

B. bagarius tersebar di kawasan Sungai Gangga dan Sungai Kali (India), Sungai Chao Phraya (Thailand), Sungai Mekong (Cina), hingga muara Sungai Merah di Vietnam dan di wilayah selatan, mulai Indocina, Semenanjung Malaysia, sampai Indonesia. B. suchus banyak berasal dari Sungai Mekong dan Chao Phraya, sedangkan B. rutilus lebih suka berenang di kawasan Sungai Merah dan Sungai Ma di utara Vietnam. Begitu juga si raksasa B. yarrelli yang banyak ditemukan di bagian selatan dan tenggara Asia.

Bagaimana dengan di Indonesia? Dari semua keluarga Bagarius, jenis B. bagarius memang paling banyak ditemukan di Indonesia. Penduduk setempat, terutama di Pulau Jawa, menyebut ikan ini sebagai ikan kelaling. Ikan ini tak begitu banyak diperjualbelikan karena dagingnya cepat busuk sehingga menimbulkan penyakit.

Nah, sang jumbo raksasa, B. yarrelli, pun dilaporkan terdapat di Sungai Musi dan Sungai Kapuas. Ikan ini juga terdapat di Jawa Barat dan Bali. Menurut laporan Kondisi dan Potensi Keanekaragaman Hayati Jawa Barat, yang diterbitkan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat (2005), ada 132 jenis ikan tawar di Jawa dan Bali. Itu termasuk keberadaan B. yarrelli.

Sayang, BPLHD melaporkan, kondisi air tawar di Jawa dan Bali menurun dengan hilangnya hutan, pencemaran, sedimentasi, dan pembangunan waduk. Akibatnya, banyak biota air tawar yang terancam punah. Bahkan di Jawa Barat, jenis B. yarrelli tidak terlihat lagi alias punah bersamaan dengan belut raksasa, Thyrsoidea macrurus.
(sumber: Gatra.com)

Menurut National Geographic, ikan ini merupakan salah satu dari jenis ikan langka yang hampir punah.

Posting Dengan Kategori Sama



0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails